Sumbawa (09/04)-Pada Webinar Inspiraksi #1, Adkhilni Mudkhola Sidqi (pendiri Bank Sampah Digital) bersama Mega Trishuta Pathiassana (anggota Asosiasi Bank Sampah NTB) berbagi mengenai peranan bank sampah dan peluang manfaat yang diperoleh dari adanya sampah. Baik dari aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Melalui webinar tersebut, disampaikan pula beberapa motivasi dan peluang berbisnis di bidang sampah yang juga berfungsi untuk pemberdayaan masyarakat. Apalagi, sampah di Indonesia yang masih tak terkelola secara total hingga saat ini masih sekitar 24 persen. Sedangkan, di NTB sendiri baru sekitar 17 persennya yang sudah terkelola. Jika hal ini dihadapi dengan kreativitas dari masyarakat, maka sangat banyak pundi-pundi pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan sampah masyarakat.

Sesuai dengan teori distributed networks dari Muhaimin Iqbal, masyarakat seharusnya dapat dilibatkan dalam proses pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga. Prinsipnya adalah mengurangi ketergantungan dalam penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mencegah sampah keluar dari area mereka tanpa dikelola terlebih dahulu menjadi produk yang memiliki nilai baru kembali.

Belajar dari pengalaman Swedia, negara tersebut berhasil mengelola sampah hingga pada tahapan menjadi karakter membutuhkan waktu sekitar 30 tahun. Saat ini, Swedia berhasil menjadi salah satu contoh bagi negara-negara di dunia dalam pengelolaan sampah. Sampah-sampah tersebut sebagian besar dijadikan sebagai bahan baku pembangkit listrik.

Melihat potensi tersebut, peluang Indonesia untuk mempersingkat waktu dalam mencapai tujuan berdaulat sampah akan lebih besar. Mengingat, era industri 4.0 turut mendukung adanya percepatan pembangunan termasuk dalam hal kedaulatan sampah. Negara yang berdaulat sampah berarti negara yang berhasil dalam pengelolaan sampah, bahkan dapat membantu daerah atau negara-negara di sekitarnya dalam permasalahan sampah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *